Founder: Manggala D. Ratulanggie, Thibaud Plaquet
Industri: platform layanan data science
Status pendanaan: telah memperoleh seed funding

  • Datanest menyediakan layanan data science-as-a-service agar para pelaku industri kecil dan menengah bisa ikut merasakan manfaat analisis data berbasis teknologi dalam mengambil keputusan bisnis.
  • Tak hanya menyediakan layanan tim data scientist, Datanest juga membangun infrastruktur yang dapat dipakai para klien mengakses sejumlah advanced analytic tool guna membantu bisnis masing-masing.

Seiring pengembangan bisnis modern yang makin condong ke arah data driven, permintaan akan tenaga khusus untuk memahami sisi strategis dari pendekatan tersebut kini bermunculan dari para pelaku bisnis yang sadar akan pentingnya pemanfaatan data.

Peluang inilah yang mendorong pendirian platform data science-as-a-servicebernama Datanest oleh Manggala D. Ratulanggie bersama koleganya, Thibaud Plaquet, seorang ekspat berkewarganegaraan Perancis.

Berbekal keahlian mereka berdua usai bekerja di sebuah penyelenggara platform pemberdayaan teknologi bagi UMKM, Manggala bersama Thibaud mencoba menjawab tantangan seputar pengaplikasian data science dalam keputusan berbisnis, terutama di negara berkembang seperti Indonesia.

Dorongan Menumbuhkan Pasar Analisis Data Di Indonesia

Pengumpulan data dan proses analisis memang bukan hal baru bagi Manggala. CEO Datanest yang merupakan lulusan Ilmu Komputer Universitas Bina Nusantara ini pernah berkutat dengan analisis data dalam jumlah besar, sehingga memahami betul bagaimana penggalian sebuah insight dan proses olah data untuk mendukung keputusan bisnis.

Hal itu perlu dilakukan untuk dapat bersaing dengan kompetitor. Tetapi sayangnya tidak banyak yang bisa melakukannya,

 Manggala D. Ratulanggie, CEO Datanest

Di Indonesia sendiri, keterbatasan akan tenaga analisis telah mendorong kemunculan program pelatihan data scientist serta lembaga konsultan data science yang diharapkan bisa menanggulangi kebutuhan korporasi di kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, dan lainnya.

Bagaimana dengan industri kecil dan menengah? Memanfaatkan tenaga ahli analisis data secara eksklusif, atau mempelajari bagaimana metode itu bekerja, tidaklah mudah bagi mereka.

Untuk itu, Manggala berpikir bagaimana caranya agar advanced analytic toolsbisa jadi lebih terjangkau. Ia ingin industri kecil dan menengah juga memiliki opsi yang setara dengan korporasi dalam memenuhi kebutuhan analisis data masing-masing.

Dalam pendirian Datanest, Manggala dibantu oleh Plaquet yang sempat menjadi koleganya di sebuah startup platform pemberdayaan UKM. Plaquet yang memiliki latar belakang di bidang computer science dan business development kerap menjadi teman bertukar pikiran, terutama dalam menggali peluang bisnis untuk pengolahan data di Indonesia.

Sebagai entitas penyedia layanan B2B, Datanest bekerja dengan cara memberikan analisis end-to-end kepada klien. Mereka menyiapkan penyusunan infrastruktur dan actionable insight oleh tim data scientistmiliknya.

Untuk melayani konsumen, Datanest menerapkan cara kerja sebagai berikut:

  1. Klien datang dengan permasalahan bisnis yang ingin diselesaikan.
  2. Tim data sciencist meminta sampel data historis untuk melakukan data exploratory.
  3. Apabila tim data sciencist telah memiliki data yang cukup untuk membuat model prediktif (dan klien setuju untuk melanjutkan), maka tim akan membuat model machine learning untuk keperluan analisis dan prediksi.
  4. Setelah model tersebut selesai dan diimplementasikan dengan infrastruktur Datanest, klien dapat melihat hasilnya melalui dashboard ataupun direct API ke legacy system yang dimiliki oleh klien tersebut.

Tantangan Di Sektor Bisnis Data Science

Di Indonesia, ranah bisnis yang digeluti Datanest belum banyak dilirik oleh startup lokal. Namun hal tersebut bukan berarti tidak ada kompetitor, mengingat perusahaan terkemuka seperti IBM juga menawarkan layanan serupa bagi kalangan korporasi.

Sebagai pendiri startup yang berkutat dengan aktivitas olah data milik perusahaan lain, Manggala mengaku kerap menjumpai hambatan, antara lain seperti sikap skeptis dari perusahaan, terutama dalam hal keamanan karena pengerjaan teknologi dan tool yang berbasis tenaga lokal.

“Tidak jarang (karena kendala ini) kami harus berdiskusi terlebih dahulu panjang lebar dengan tim IT mereka, menjelaskan keamanan dari teknologi kami dan cara tim menganalisis data,” ujar Manggala. Namun, setelah beberapa kali pembuktian dan implementasi, akhirnya tidak sedikit yang mulai terbuka pemikirannya.

“Membangun sebuah startup tidaklah mudah, apalagi masuk dari sisi teknologinya terlebih dahulu dibandingkan dari sisi bisnis. Bisa bertahan dan berkembang sejauh ini merupakan suatu pencapaian yang baik untuk perusahaan.”

Selain menawarkan analisis data kepada korporasi dan perusahaan kecil menengah, Datanest kini juga berkembang sebagai jembatan bagi produk lending fintech lewat produk terpisah bernama MasterPinjaman.

Lewat layanan agregat ini, Datanest bekerja sama dengan beberapa marketplace dan mitra produk keuangan lainnya untuk menghadirkan perbandingan produk finansial berbasis pinjaman kepada para konsumen yang membutuhkan.

Usai mengikuti program Plug And Play Batch kedua pada Januari 2018 lalu, saat ini Datanest sudah tengah menyelesaikan proses pendanaan dengan besaran angka yang tidak disebutkan. Dengan investasi tersebut Manggala berencana mengembangkan Datanest tidak hanya dari sisi SDM dan pemasaran saja, tetapi juga dari segi teknologi.

“Kami akan terus mengembangkan teknologi Datanest supaya lebih mudah lagi digunakan dan diimplementasikan, namun kami juga mengedepankan kualitas, sehingga user dapat memperoleh service yang maksimal,” pungkas Manggala.

(Diedit oleh Iqbal Kurniawan)

Source : https://id.techinasia.com/datanest-startup-data-science